Kebijakan ini menjadi salah satu strategi perubahan perilaku di lingkungan perkantoran, yang selama ini masih bergantung pada penggunaan botol plastik sekali pakai. DLH HST ingin membangun kebiasaan baru yang lebih ramah lingkungan dimulai dari internal instansi pemerintah.
Kepala DLH HST, Drs H Mursyidi, menegaskan bahwa gerakan tersebut bukan sekadar imbauan, melainkan langkah nyata yang diharapkan bisa berkelanjutan dan meluas ke masyarakat.
“Langkah sederhana ini kami dorong agar menjadi kebiasaan bersama, tidak hanya di internal pemerintah, tetapi juga bisa dicontoh oleh masyarakat luas,” katanya.
Data DLH HST mencatat, produksi sampah di daerah ini mencapai sekitar 135 ton per hari. Dari jumlah tersebut, sampah organik mendominasi dengan 66,44 ton per hari, sementara sampah plastik menyumbang sekitar 22,35 ton per hari. Kondisi ini menunjukkan perlunya upaya serius dalam menekan penggunaan plastik sekali pakai.
Di tengah tantangan tersebut, capaian positif juga diraih HST dalam bidang pengelolaan lingkungan. Daerah ini mendapatkan sertifikat menuju kabupaten bersih dari Hanif Faisol Nurofiq. DLH HST pun berharap, gerakan kecil seperti penggunaan tumbler dapat menjadi pemicu kesadaran kolektif untuk menjaga lingkungan secara konsisten dan berkelanjutan.