Kalsel.radigfamedia.com, BARABAI – Tidak semua anak muda hanya memilih menjadi penonton ketika melihat persoalan di sekitarnya. Sebagian memilih bergerak, mengajak, dan mengubah kepedulian menjadi aksi nyata. Pilihan itulah yang dilakukan Luthpah Ajizah, pemuda asal Kabupaten Hulu Sungai Tengah yang menggagas lahirnya PAKAR (Pemuda Peka Kondisi Sekitar).
Gagasan tersebut lahir pada tahun 2025, ketika Luthpah Ajizah masih duduk di bangku MAN 2 Hulu Sungai Tengah. Berangkat dari keprihatinannya terhadap masih kurangnya kepekaan sebagian pemuda terhadap kondisi sosial dan lingkungan di sekitar, ia ingin menghadirkan sebuah ruang yang mampu mengajak generasi muda untuk tidak hanya peduli, tetapi juga ikut melakukan aksi nyata.
Dari keresahan itulah, Luthpah mulai membangun sebuah gagasan sederhana: bagaimana jika pemuda tidak hanya melihat, tetapi juga hadir dan mengambil peran?
Gagasan tersebut kemudian berkembang menjadi sebuah gerakan bernama PAKAR, yang merupakan singkatan dari Pemuda Peka Kondisi Sekitar. Dalam proses membangunnya, Luthpah mengajak teman-temannya, yakni Fauzi, Adie, Fadil, dan Zaki, untuk bersama-sama mewujudkan gagasan tersebut menjadi sebuah komunitas yang bergerak di tengah masyarakat.
Sejak awal, PAKAR dibangun dengan semangat kepedulian dan gotong royong. Tidak hanya menjadi tempat berkumpulnya anak-anak muda, komunitas ini diarahkan untuk menjadi wadah yang mampu menghadirkan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.
Berbagai kegiatan sosial kemudian mulai dilakukan. Mulai dari berbagi takjil pada bulan Ramadan, membantu korban kebakaran, melakukan penggalangan dana, hingga berbagai kegiatan sosial lainnya yang melibatkan masyarakat.
Bagi Luthpah, kepedulian tidak seharusnya berhenti pada rasa iba atau sekadar unggahan di media sosial. Kepedulian harus diwujudkan melalui tindakan, sekecil apa pun bentuknya.
“Dari kepedulian lahir tindakan, dan dari tindakan kecil yang dilakukan bersama-sama dapat tumbuh sebuah perubahan,” menjadi semangat yang tercermin dalam perjalanan gerakan tersebut.
Berawal dari lingkungan sekolah dan tumbuh di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, PAKAR menjadi bukti bahwa gagasan sederhana yang lahir dari kepedulian seorang pemuda dapat berkembang menjadi sebuah gerakan nyata.
Luthpah Ajizah tidak membangun PAKAR seorang diri. Namun, sebagai penggagas yang menanamkan ide dan semangat awal, ia berhasil mengajak teman-temannya untuk bergerak bersama, menjadikan sebuah keresahan sebagai titik awal lahirnya aksi sosial.
Perjalanan tersebut menjadi salah satu bagian penting dari kiprahnya hingga berhasil meraih Juara 2 Pemuda Berprestasi Tingkat Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2025 pada bidang Seni, Budaya, dan Kreativitas Digital.
Prestasi itu bukan sekadar tentang berdiri di atas panggung menerima penghargaan. Lebih dari itu, penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas proses, pengalaman, konsistensi, serta kontribusi yang telah dibangun dalam perjalanan kepemudaannya.
Dari seorang pelajar yang memiliki keresahan terhadap kondisi sekitar, Luthpah Ajizah memilih untuk mengambil langkah. Ia mengubah kepedulian menjadi gagasan, gagasan menjadi gerakan, dan gerakan menjadi aksi nyata.
PAKAR menjadi salah satu bukti bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Terkadang, perubahan dimulai dari satu orang yang berani peduli dan mengajak orang lain untuk bergerak bersama.
Dari Hulu Sungai Tengah, Luthpah Ajizah telah membuktikan bahwa usia muda bukan alasan untuk menunggu. Sebab ketika seorang pemuda memiliki kepedulian, keberanian, dan kemauan untuk bertindak, maka dari sebuah keresahan dapat lahir gerakan yang membawa manfaat.
Dan bagi Luthpah Ajizah, PAKAR bukan sekadar sebuah nama komunitas. PAKAR adalah gagasan yang lahir dari kepedulian, tumbuh melalui kebersamaan, dan bergerak untuk memberi manfaat bagi sesama.
